TEORI INTERAKSI SIMBOLIK
Menurut banyak pakar pemikiran
George Herbert Mead, sebagai tokoh sentral teori ini, berlandaskan pada
beberapa cabang filsafat antara lain pragmatisme, dan behaviorisme.
1. Pragmatisme
Dirumuskan oleh John Dewey, Wiliam
James, Charles Peirce, Josiah Royce, aliran filsafat ini memiliki beberapa
pandangan yaitu :
- Realitas yang sejati tidak
pernah ada di dunia nyata, melainkan secara aktif diciptakan ketika kita
bertindak di dan terhadap dunia.
- Percaya bahwa manusia mengingat
dan melandaskan pengetahuan mereka tentang dunia pada apa yang terbukti
berguna bagi mereka.
- Manusia mendefinisikan objek
fisik dan objek sosial yang mereka temui berdasarkan kegunaannya bagi
mereka, termasuk tujuan mereka.
- Bila kita ingin memahami orang
yang melakukan tindakan (aktor), kita harus mendasarkan pemahaman itu pada
apa yang sebenarnya mereka lakukan di dunia.
2.Behaviorisme
Menurut Mead, manusia harus dipahami
berdasarkan pada apa yang mereka lakukan. Namun, manusia punya kualitas lain
yang membedakannya dengan hewan lain. Kaum behavioris berkilah bahwa satudiri
individu di antara datangnya stimulus dan bangkitnya perilaku.
- Behaviorisme sosial merujuk
pada deskripsi perilaku pada tingkat yang khas manusia.
- Konsep dasarnya ialah tindakan
sosial (social act), yang juga mempertimbangkan aspek tersembunyi, yang
membedakan perilaku manusia dengan perilaku hewan.
- Menganggap perilaku manusia
sebagai perilaku sosial., sebab substansi dan eksistensi perilaku manusia
hanya dapat dijelaskan dengan mempertimbangkan basis sosialnya.
TEORI EVOLUSI DARWIN
Teori Darwin menekankan pandangan
bahwa semua perilaku organisme, termasuk perilaku manusia, bukanlah perilaku
acak, melainkan dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka
masing-masing. Aspek pandangan lain Darwin yang dianggap berpengaruh tersebut
adalah :
- Sebagaimana alam yang harus
dipelajari dalam keadaan alami, manusia pun harus dipelajari dalam keadaan
alami (naturalistik).
- Bila manusia memang punya
kualitas-kualitas khas yang membedakan mereka dengan hewan, seperti punya
kebebasan dan berfikir, mereka harus dipelajari dan diidentifikasi dalam
keadaan seperti itu.
- Keunikan manusia itu bukan
hanya otaknya yang jauh lebih berkembang daripada otak hewan lainnya, pita
suaranya dan otot wajahnya yang memungkinkannya menciptakan berbagai macam
suara, melainkan juga implikasi dari kemajuan fisiknya tersebut yaitu
kemampuan mereka untuk berbahasa dan berfikir.
ASUMSI INTERAKSI SIMBOLIK
Rumusan yang paling ekonomis dari
asumsi-asumsi interaksionisme simbolik datang dari karya Herbert Blumer yaitu :
- Manusia bertindak terhadap
sesuatu atas dasar makna yang dimiliki benda-benda itu bagi mereka.
- Makna-makna itu merupakan hasil
dari interaksi sosial dalam masyarakat manusia.
- Makna-makna dimodifikasikan dan
ditangani melalui suatu proses penafsiran yang digunakan oleh setiap
individu dalam keterlibatannya dengan tanda-tanda yang dihadapinya.
INTI TEORI INTERAKSI SIMBOLIK
Esensi interaksi simbolik adalah
suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau
pertukaran simbol yang diberi makna. Interaksionisme simbolik juga telah
mengilhami perspektif-perspektif lain, seperti “teori penjulukan” (labeling theory) dalam
studi tentang penyimpangan perilaku (deviance), perspektif dramaturgis dari
Erving Goffman, dan etnometodologi dari Harold Garfinkel.
PREMIS-PREMIS INTERAKSIONISME
SIMBOLIK
1. Individu merespons suatu situasi
simbolik.
Individu dipandang aktif untuk
menentukan lingkungan mereka sendiri.
2. Makna adalah produk interaksi
sosial. Oleh karena itu, makna tidak melekat pada objek, melainkan
dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa.
3. Makna yang diiterpretasikan
individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi
yang ditemukan dalam interaksi sosial. Perubahan interpretasi dimungkinkan
karena individu dapat melakukan proses mental, yakni berkomunikasi dengan
dirinya.
PRINSIP-PRINSIP TEORI INTERAKSI
SIMBOLIK
1. Manusia, tidak seperti hewan
lebih rendah, diberkahi dengan kemampuan berfikir.
2. Kemampuan berfikir itu dibentuk
oleh interaksi sosial.
3. Dalam interaksi sosial, orang
belajar makna dan simbol yang memungkinkan mereka menerapkan kemampuan khas
mereka sebagai manusia, yakni berfikir.
4. Makna dan simbol memungkinkan
orang melanjutkan tindakan dan interaksi yang khas manusia.
5. Orang mampu memodifikasi atau
mengubah makna dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi
berdasarkan interpretasi mereka atas situasi.
6. Orang mampu melakukan modifikasi
dan perubahan ini karena kemampuan mereka berinteraksi dengan diri sendiri,
yang memungkinkan mereka memeriksa tahapan-tahapan tindakan, menilai keuntungan
dan kerugian relatif, dan kemudian memilih salah satunya.
7. Pola-pola tindakan dan interaksi
yang jalin-menjalin ini membentuk kelompok dan masyarakat.
TEORI TENTANG “DIRI” DARI GEORGE
HERBERT MEAD
Inti dari teori interaksi simbolik
adalah teori tentang “diri” (self) dari George Herbert Mead, Cooley berpendapat
dalam teorinya the looking-glass self bahwa konsep diri
individu secara signifikan ditentukan oleh apa yang ia pikirkan tentang pikiran
orang lain mengenai dirinya, jadi menekankan pentingnya respon orang lain yang
ditafsirkan secara subjektif sebagai sumber primer data mengenai diri.
Sementara itu, Konsep Mead tentang diri merupakan penjabaran “diri
sosial” yang dikemukakan Wiliam James dan pengembangan dari teori Cooley
tentang diri.
a. Pentingnya Simbol dan
Komunikasi
Bagi Cooley dan Mead, diri muncul
karena komunikasi. Suatu simbol disebut signifikan atau memiliki makna bila
simbol itu membangkitkan pada individu yang menyampaikannya respons yang sama
seperti yang juga muncul pada individu yang dituju. Menurut Mead, hanya apabila
kita memiliki simbol-simbol yang bermakna, kita berkomunikasi dalam arti yang
sesungguhnya. Ringkasnya, dalam pandangan Mead isyarat yang dikuasai manusia
berfungsi bagi manusia itu untuk membuat penyesuaian yang mungkin diantara
individu-individu yang terlihat dalam setiap tindakan sosial dengan merujuk
pada objek atau objek-objek yang berkaitan dengan tindakan tersebut.
b. Pikiran
Menurut teori interaksi simbolik,
pikiran mensyaratkan adanya masyarakat, dengan kata lain, masyarakat harus
lebih dulu ada, sebelum adanya pikiran. Dengan demikian pikiran adalah bagian
dari proses sosial, bukan malah sebaliknya, proses sosial adalah produk
pikiran.
c. Perkembangan “diri”
Menurut Mead,
perkembangan diri terdiri dari dua tahap umum yang ia sebut sebagai
tahap permainan (play stage) ialah perkembangan pengambilan peran bersifat
elemen yang memungkinkan anak-anak melihat diri mereka sendiri dari perspektif
orang lain yang dianggap penting (significant others). Dan tahap pertandingan
(game stage) berasal dari proses pengambilan peran dan sikap orang lain
secara umum (generalized others), yaitu masyarakat umumnya. Menurut Mead,
sebagai suatu proses sosial, diri terdiri dari dua fase
yaitu “Aku” (I) dan “Daku” (Me). Aku adalah diri yang
subyektif, diri yang refleksif yang mendefinisikan situasi dan
merupakan kecenderungan impulsif individu untuk bertindak dalam suatu cara yang
tidak terorganisasikan, tidak terarah, dan sponta. Sementara Daku adalah
pengambilan peran dan sikap orang lain, termasuk suatu kelompok tertentu.
Karena itu diri sebagai objeklah yang meliputi diri sosial,
yang dipandang dan direspon oleh orang lain.
PUSTAKA
Moleong, Lexy J.
1995. Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaja
Rosdakarya. Bandung.
Muhadjir, Noeng.
1996. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Ke-3.
Rake Sarasin. Yogyakarta.
Mulyana , Dedy.
2001. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu
Komunikasi dan
sumber

0 Komentar